Skip to main content

Posts

Puisi Gelisah

Malamku dalam Gelisah Oleh: Fitriani Ulma Malam kian memekat Menorehkan buih resah dalam gundah Sebongkah amarah membara Sekelumit gundah merasuk sukma Sepi kian mengulum hati Sementara angin kian menderu tajam Mencoba menikmati goresan rentang waktu Mencoba memandang penuh makna Meski merobek sebagian hati Meski tertaut sepenggal rasa Malam... Rangkul gelisah dalam mimpi yang indah Gelisah... Rangkul malam menyambut terang kembali Malamku dalam gelisah Kumohon wujudkan mimpi menyambut terang Gowa, 23 April 2015

Kebersamaan

KEBERSAMAAN Itu Oleh: Fitriani Ulma          Kebersamaan itu... membuat kita merasakan arti sebuah keluarga. Sebuah kekeluargaan yang telah berhasil mengukir berbagai macam kisah. Untuk meninggalkan kisah itu cukup sulit bagiku, apalagi harus melupakannya. Semua itu kini menjadi cerita kenangan lucu yang masih segar untuk diingat. Ada canda, tawa, sedih, haru, senang bahkan sampai rasa takut sering kita lalui bersama. Tak terasa, sudah cukup lama kita tak bercengkrama bersama.             Kebersamaan itu kembali kurasakan saat mudik beberapa minggu yang lalu, berkumpul kembali walau sebentar. Seperti biasa, hanya ada suasana gaduh nan bahagia yang tercipta. Bagaimana tidak, wajah humoris dan sifat humorisnya mereka masih saja menjadi pengisi pertemuan itu bahkan mereka semakin humoris.             Terima kasih kawan-kawan...

Muslimah

Wahai Muslimah Oleh: Fitriani Ulma   Wahai muslimah... Pesona akhlakmu bak mutiara yang berkilau ... Lembut tuturmu adalah pribadi yang santun Cantiknya hatimu laksana kapas tanpa noda   Kau senantiasa menghiasi diri dengan bingkai akhlak islam Kau senantiasa mentafakkuri kehidupan yang masih ghaib Kau senantiasa menjaga lisan dari ucapan sia sia Kau senantiasa menguatkan zikir dan memuji asmaNya Kau senantiasa merenda istigfar di atas sajadah cintaNya   Wahai Muslimah... Kau sungguh bersahaja dalam balutan gamis dan kerudung panjang Kau sembunyikan auratmu agar pesonanya tak terjamah Kau semakin berwibawa karena auratmu terhijabi Kau jadikan alquran dan hadis sebagai pegangan hidup agar iman di dadamu tak meredup   Sungguh... Kau tau bagaimana menjaga Izzah dirimu Kau pun mengerti bagaimana menjaga Akhlaq dirimu Itulah yang membuatmu istimewa Ilmu jua yang telah mengangkatmu menjadi permata terindah di dunia   Gowa, 25...

Fajar Menyingsing

Saat Fajar Menyingsing Oleh: Fitriani Ulma   Saat fajar mulai menyingsing Suara burung pun berkicau merdu Hamparan ilalang menari nari tertiup desiran angin Menyambut pagi yang merekah Segala bunga mekar berseri seri Menyambut sinar Sang Mentari Rekahan bunga memekar Menambah keindahan alamNya Dahan dahan bernyanyi Ranting pun bersemi Menambah keasrian AlamNya  Angin pun berhembus pelan namun pasti Memberi udara untuk nafas yang segar Bukti nikmatnya hidup Bukti indahnya alam Penuh warna warni Penuh sketsa Sang Illahi Lukisan dari Sang Maha Karya Makassar, 22 Maret 2015

Puisi Dalam Syairku

Di tengah merahnya mega Di dalam kesunyian senja Di atas selembar kertas, kutuliskan syair untukmu Sejalan berjalannya waktu Saat roda bumi berputar Di tengah-tengah terbenamnya matahari Dan munculnya bulan di malam hari Demi waktu yang pernah kita jamah Demi pertemuan singkat yang pernah kita jalani Izinkan aku memanjatkan doa agar kau sehat dan bahagia Izinkan aku memohon jamahan tanganNya untukmu selalu Rentang waktu terkadang membuat lupa Bahwa kita semakin mendewasa Rentang waktu terkadang membuat lupa Bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa Melainkan amal jasad dan hati yang ada di dalam dada Dan hari ini Kau menuju puncak tangga yang baru Karena kau akan membuka lembaran baru Untuk waktu yang tersisa untukmu Jadikan tetes air matamu adalah tanda kelemahanmu Jadikan rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanmu Hari ini, dimana kau masih diberi kesempatan Bersyukurlah atas se...

Puisi Senja

Senja Memeluk Malam Oleh: Fitriani Ulma   Semburat rona jingga perlahan memeluk malam Dengan warna gelap yang kan menyibak tirai gulita Di hamparan padang senja yang kian menyepi   Langit jingga perlahan berubah warna  Kelabu lalu hitam memekak Desir angin pun menderu pilu   Selaksa bintang diperaduan malam Lentik bak kemilau intan Bersinar bersama Sang Rembulan dalam peraduannya    Gowa, 28 Februari 2015

Angin Malam

Angin Malam di Kampung Tercinta Oleh: Fitriani Ulma Sinar sinar rembulan terhias bintang gemintang Cukup menyinari malam pertamaku di kampung Udara malam yang begitu sejuk Membuat hati terasa damai nan menyejukkan   Hembusan angin yang begitu sejuk Membelai lembut tubuhku yang merindu Yang dapat kunimati hanya di kampung tercintaku   Angin bawalah pergi tekanan yang menggerogotiku Bawakan aku rasa bebas yang sebebas bebasnya Karena aku ingin sepertimu, merasakan kebebasan Bahkan terbang bebas di angkasa Angin bawalah pergi kebisingan yang mencekamku Bawakan aku rasa ketenangan yang setenang mungkin Karena aku ingin sepertimu, melayang penuh ketenangan Jeneponto, 21 Januari 2015