Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Sajak Dua Puluh Tiga Mei

Hari ini dua puluh tiga mei berulang Namun bukanlah kelahiran Melainkan rentan usia yang Tuhan titipkan Pun bukan pengulangan kelahiran Melainkan kepulangan yang mendekat jarak Dengan usia, aku mencinta dan dicinta Dengan usia, aku lahir menjadi puisi dari syair yang dititipkan Tuhan pada rahim ibuku Dengan usia, kaulah Tuhan yang mengatur segala cita hingga purna menjadi nyata Maka.. Untuk segala ucapan yang menjadi doa untukku Untuk banyak hal yang pernah aku semogakan Membatin ayat-ayatku Berdoa sajak-sajakku Dari bibir yang dikaruniakan untukku Terlantun lisan kesyukuran atas segala nikmat kehidupan Untuk usia yang sudah dua puluh tiga tahun lamanya Selasa, 23 Mei 2017

Puisi Jeda

Ini perihal cinta yang menjelma menjadi ribuan cahaya tak bertuan Seperti kamu yang selalu menjelma menjadi kata dalam puisi Sepertinya, aku butuh jeda untuk mempertimbangkan semuanya Jeda untuk mengetahui seberapa besar aku menginginkanmu Jeda untuk segala ketidakmungkinan yang mungkin saja akan terjadi Sebab, aku teramat menyukaimu Hingga puisiku sendiri enggan memilih yang lain Pun penaku enggan berpindah tuan Fitriani Ulma Maros, 29 Januari 2017

Aku Rindu

Malam ini Dengan raut wajah setengah senyum Telah kurajut doa dalam munajat panjangku Telah kususun aksara rindu untuk Sang waktu Tanpa lembaran atau bekas tinta yang tercecer Kepada Sang waktu Di pesisir utara waktu senja Dengan debur ombak di bawah temaramnya Bisakah aku duduk berdampingan saling sapa Aku rindu Gowa, 20 Oktober 2016 Pernah diterbitkan di koran Harian Amanah Makassar

Puisi Ungkapan

Detik detik jam mengalun lelah Menyatukan jarak yang tak kunjung sudah Tanpa sepatah kata bibir ini mulai keluh Ada sebuah rasa yang tak bisa digambarkan Ada sebuah harapan yang harus menjadi nyata Ada seonggok daging yang mulai rapuh Daging itu bernama hati Hati pun mulai berdecak kagum saat namanya terdengar Padahal yang membicarakannya berada di radius puluhan kilometer Meski kenyataannya kita tak saling mengenal Membuatku sulit untuk sekedar menanyakan kabarnya Pun menyapanya adalah keraguan untukku Mendoakannya adalah caraku menyemogakannya Karena doa tak hanya sebatas kata tanpa makna Berlembar ungkapan hati telah kutulis Kubiarkan berhamburan untuk sebuah kejujuran Kubiarkan tercecer berharap ia bisa menemukannya Sebab aku tidak akan pernah bisa mengatakan di depannya Aku ingin menyelesaikan tanya yang selalu membayang Untuk menata kembali puing puing hati yang rapuh Untuk sebuah rasa yang tidak kuketahui alasannya Untuk sa...

Mengagumi

Apakah kau ingat pertemuan kita? Sejenak. Kala itu, di antara senja yang terbenam di kaki cakrawala dan lantunan ayat-ayat Ilahi mulai dikumandangkan. Tapi entahlah, mungkin hanya aku yang menyebutnya sebagai pertemuan. Aku hanya ingin kau tahu sesuatu. Tidak peduli kau akan menganggapku seperti apa ketika kalimat pengakuan kuucapkan lewat tulisan ini. Tidak peduli dengan sunggingan bibirmu yang kecut ketika kau membaca tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca adalah tentangmu. Tidak peduli kau mengetahui betapa picisannya aku yang tidak pernah alpa membaca timelinemu di media sosial. Aku mendakak menjadi stalker tingkat dewa. Aku masih ingat suaramu yang renyah. Wajahmu yang sulit dikatakan gagah tapi lebih gampang disebut teduh. Bagaimana ujung matamu berkerut ketika tersenyum. Lalu bagaimana bisa aku merasa kau orang yang menyenangkan dan membuatku ingin menjadi bagian dari sekelumit orang yang berjuang bersamamu. Hingga pada suatu ketika, waktu memper...

Puisi Pertemuan Singkat

Masihkah kau ingat pertemuan singkat itu Pertemuan yang meninggalkan cerita tentang Kau dan Aku Ada canda, tawa dan susah yang terselip di dalamnya Kini tinggallah sebuah kenangan Kenangan indah yang selalu kurindu Mungkin angin telah membawamu pergi Tapi rintik hujan itu tak dapat menghapus jejakmu Rintik hujan hanya dapat menghapus air mataku Namun air tak dapat membawamu kembali Gowa, 29 Juni 2015

Puisi Tirai Rindu

Saat bibir bersenandung di balik rintihan Mengalun merdu mengiri hasrat rindu Ingin segera kusibakkan bayangmu Yang bersembunyi di balik tirai mimpi Jiwa terkurung di dalam kerinduan Hati merintih di ruang penantian Raga bergelora di antara rasa dan cinta Pandangan tertuju pada banyang semu Meski merindu di balik tirai mimpi Mengharap cinta yang jauh di mata Mencari bayangmu walau ditepian mimpi Menanti sepi berakhir walau hanya sebatas mimpi Saat bayangmu hadir menyibak tirai rindu Menyusup kedalaman raga yang lelah menjaga hati Rasakan degup jantungku yang seolah berkata “ Penuhi kerinduanku... ” Fitriani Ulma Minggu, 24 Mei 2015

Puisi Merindu

Di Pelataran Senja Kumerindu Oleh: Fitriani Ulma Kuhembuskan rindu ini di pelataran senja Rindu yang tertanam disetiap waktu Kucurahkan rindu ini lewat guratan sepi Guratan sepi yang menenggelamkanku ke danau rindu Sendiri dalam cekaman rindu ditepi senja Sendiri dengan sepi dan seteguk kenangan Sendiri menanti cakrawala jingga tenggelam Sembari menunggu pancaran aura rembulan Adakah rasa yang kau titipkan pada senja Ataukah potret yang kau bingkai menjadi kenangan hampa Kenangan yang terpatrik lalu kau campakan Kenangan yang membuatku merindu Gowa, 09 Mei 2015

Puisi Dalam Kesendirian

Dalam Kesendirianku Oleh: Fitriani Ulma Dalam kesendirianku Kutatap langit yang bercahaya Kucumbui senja dan bisikan Sang bayu Kuucapkan sejuta tanya pada rumput yang bergoyang Dalam kesendirianku Diantara kelelahan dan kesepianku Apakah rinduku dapat kau rasakan Atau, ini bagaikan fatamorgana dan ilusi yang tak bertepi Mengapa ada batas dan waktu Mengapa ada jarak yang memisahkan Mengapa sosokmu selalu tergambar dalam lensa mataku Sementara... Langkahku semakin tertatih dalam kebimbangan Sementara... Langkahku semakin lelah dalam menyatukan rindu Dalam kesendirianku Dari hati yang paling dalam kutitpkan sebuah “rindu” Dari jauh kutitipkan sebuah panggilan “sayang” Agar kau pun hanyut dan tenggelam dalam kerinduanku Gowa, 09 Mei 2015