Skip to main content

Sajak Sebilan November


Telah datang, telah hadir kembali hujan yang telah lama dirindukan
Tanah yang telah mengering, perlahan tercium wewangian alam
Seperti melati mekar merekah menebar wewangian
Titik titik air berjatuhan, seraya melepas rindu yang selama ini tertahan
Dan mengucap salam pada kemarau yang telah pergi

Seperti terdengar nyanyian merdu rerumputan
Dan dedaunan yang diterpa tetesan air hujan
Suasana bahagia alam raya menyambut turunnya hujan di bulan November
Hujan yang dinanti oleh ladang ladang
Yang dulu gersang dan kering kerontang
Ladang yang meranggas ditebas mimpi hujan yang tak kunjung datang
Hujan yang menjawab doa doa pepohonan yang telah lama terbakar matahari
Burung burung hutan yang hampir putus asa dengan pedihnya siksa dahaga
Hujan yang menjawab doaku, juga mungkin doa kita semua

Ucap syukur sayup sayup telah terdengar
Yang sebelumnya kami berpeluh dan mengeluh kapan engkau datang?

Selamat berbahagia untukmu rerumputan, pepohonan, dan biji bijian
Semoga tumbuh dan berkembang
Menciptakan tunas dan batang baru yang kuat dan kokoh
Menciptakan dahan rindang yang lebat menaungkan

Hujan Sembilan November, salam dariku
Selamat datang di ladang bumiku
Dihatiku, dihatinya, dan dihati mereka semua

Gowa, 09 November 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan