Skip to main content

Kurawat Senyum Di Wajah Mereka

“..sebab bahagia itu sederhana. Sesederhana ketika kita dapat melihat orang lain tertawa bahagia, ketika kita dapat berbagi, mengabdi dan bersyukur.”

Matahari dengan terpaan sinarnya menerjang wajah dan seluruh tubuhku. Siang yang cerah dengan udara yang begitu terik terasa. Hembusan angin yang bertiup meruntuhkan dedaunan yang kering. Lima belas menit dengan scooter merah yang kugunakan telah membawaku tepat di depan mereka yang sedang berkumpul menungguku. Mereka yang memenuhi ruang ingatanku akhir-akhir ini. Wajah-wajah yang selalu tersenyum ceria menari-nari di pelupuk mata.

Meraka adalah sekelompok anak yatim. Seorang anak yang tidak memiliki bapak yang harus benar-benar berjuang untuk tetap melanjutkan sekolah dan membantu ibunya bekerja dalam mempertahankan kehidupannya.

Mereka yang membuat hidupku menjadi lebih bernilai. Mereka yang membuatku mampu melihat banyak orang khususunya anak yatim dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Mereka membuatku ingin berbagi.

Aku harus berbagi apa kepada mereka? Haruskah aku berbagi dengan cara memberikan uang? Tidak. Bukankah banyak cara lain untuk berbagi dengan mereka? Ya, Aku punya sedikit ilmu untuk dibagikan kepada mereka.

Tiga bulan yang lalu tepatnya, setalah pihak Lembaga Yatim Mandiri Makassar mempercayaiku menjadi bagian dari sahabat yatim. Setelah aku ditetapkan sebagai tenaga pengajar bimbingan belajar di Sanggar Genius Somba Opu Kelurahan Macanda Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Rasanya masih sangat jelas di ingatan bagaimana kondisi mereka di pertemuan pertama.

Sembari memperkanalkan diri di sebuah kelas sekolah dasar yang masih sangat sederhana dibandingkan kelas-kelas sekolah yang sudah terbilang layak, Aku menatap mereka yang duduk siap tepat di depanku. Bola matanya yang berbinar memancarkan semangat. Astaga! Senyuman mereka manis sekali. Senyum manis nan sumringah nampak jelas di wajah-wajah mereka.

Beberapa di antara merka, entah tubuhnya yang mungil sudah berapa hari tak tersentuh air bersih ataukah tidak pernah menggunakan sabun mandi. Tubuhnya berkeringat dan berdaki membuat aroma tak sedap merasuki penciumanku. Ditambah lagi anak gadis yang tidak menggunakan hijab sangat jelas terlihat rambutnya yang teruari berantakan.

Mereka butuh perhatian dari segi kasih sayang, pendidikan, cerita hangat, pengalaman yang menyentuh dan berbagai les-les agar rasa percaya diri mereka tumbuh, berkembang, dan mereka dapat menyalurkan berbagai prestasi.

Suasana kelas yang setiap harinya selalu ramai dikunjungi dengan anak-anak yang mengintip mengamati proses belajar dari luar, tiba-tiba Aku mendengar sebuah kalimat yang terlontar dari salah satu anak yatim yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

“Weeh, apanu kau meninggal? Masih hidupji bapakmu toh? Tidak bolehko masuk. Kalau mauko ikut belajar, haruspi meninggal bapakmu.” Kaisar dengan polosnya meneriaki temannya yang pada saat itu juga sangat ingin ikut bergabung. Hanya saja, temannya itu masih memiliki kedua orang tua dan terbilang masih mampu dari segi ekonomi.

Kalimat yang dilontarkan Kaisar membuyarkan perhatianku seketika. Mendengarnya membuatku ingin tertawa tapi nyessekk rasanya. Tawa anak-anak yatim yang saat itu sedang fokus mengerjakan soal matematika tiba-tiba menggelegar memenuhi ruang kelas. Mereka menertawai Kaisar yang terlihat bangga bahwa hanya orang-orang yang seperti Dia yang bisa ikut belajar di sini.
***

Hal yang sangat kuutamakan di dalam kelas ialah menjadikan mereka anak-anak cerdas berprestasi yang mencintai Alquran. Menanamkan nilai-nilai religius dalam dirinya agar mereka bisa mengontrol sikap atau perilakunya kepada orang-orang di sekelilingnya.

Membangun rasa percaya diri dalam diri mereka. Sebab percaya diri adalah salah satu kunci keberhasilan untuk masa depan mereka. Agar mereka merasa bahwa dirinya tidaklah berbeda dengan teman-temannya yang masih memiliki kedua orang tua. Sebab rendahnya rasa percaya diri adalah salah satu masalah yang Aku temui di dalam diri mereka.

Aku juga mengamati sekeliling mereka banyak yang menganggap anak yatim itu miskin, kumuh, dan bodoh. Mungkin karena stigma itulah tingkat percaya diri anak-anak yatim menurun. Namun, setelah beberapa bulan mereka mengikuti bimbingan belajar, beberapa hal yang sudah mulai terlihat dari mereka.

“Bund, Bunda Aini...” Kayla memanggilku dari belakang dengan nafas yang tersenggal-senggal sambil berlari ke arahku.
“Iya, sayang. Ada apa?” Aku meraih tangannya, menggandengnya sambil berjalan menuju kelas.

“Bund, beberapa hari ini Kayla selalu mengerjakan soal matematika di papan tulis.” Dia dengan bangganya menceritakan itu kepadaku. Dia juga menceritakan bahwa gurunya di kelas sangat senang setelah mengerjakan soal di papan tulis.

“Bunda, bertambahmi lagi hafalanku jadi dua puluh surah.” Kaisar melapor setibaku di dalam kelas.

Aku tersenyum sambil mengeluarkan coklat dari ransel sebagai hadiah yang tempo hari kuiming-imingkan kepadanya. Kaisar dengan kekuatan menghapalnya terbilang cepat di usianya yang masih duduk di bangku kelas dua SD.

“Kalau rapotan nanti toh bunda, tidak mauma lagi kalau tidak dapatka peringkat.” Semangat Amel kian jelas di wajah. Amel siswi yang sedang duduk di kelas lima SD memang belum pernah mendapatkan peringkat di kelasnya. Ketika mengerjakan soal, belakangan ini Amel lebih sering selesai lebih awal dari teman-temannya yang lain.

Selebihnya, anak-anak perempuan tidak ada lagi yang terurai rambutnya ketika masuk kelas. Kata tolong dan terima kasih adalah kata yang paling sering terdengar di dalam kelas. Berbagi sedikit ilmu, beberapa perlengkapan menulis dan tiga kaleng sosis dalam sebulan adalah caraku menjaga senyum di wajah mereka.

Sabtu, 25 Februari 2017

Comments

Anonymous said…
Good and Inspiring...
www.aribiandomain.blogspot.com

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan