Skip to main content

Puisi Kemarin, Hari ini dan Esok

Kemarin…
Kau adalah seseorang yang begitu kucinta
Kau adalah seseorang yang begitu kurindu
Kau adalah penerang di waktu gelapku
Kau adalah seorang penenang di kala gelisahku

Kau hadirkan senyum terindah
Senyuman yang menjadi satu-satunya nafas untukku
Saat aku tenggelam dalam larutnya kegelapan
Saat hujan luka itu masih menari diatas perih
Kau datang membawakanku sebuah pelangi

Hari ini….
Terbayang bias wajahmu di antara kelamnya pedih hatiku
Menahan perihnya luka yang kau iris hari kemarin
Sesak rasa di dada kian menghimpit hati
Sungguh tak kuasa diriku jika harus mengingat ke masa itu
Saat cinta dan pengorbananku kau balas dengan dusta pedih

Esok…
Jika hanya menyisakan getir di hati
Walau kisah itu begitu indah
Kuingin melupakanmu, melepas semua beban dalam hati
Dan semua kenangan tentang dirimu.
Karena kenangan itu hanya menyisakan perih di hati

Selamat tinggal kasih.

F.A Ulma
Rabu, 09 Juli 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan