Skip to main content

Budayakan Saling Maaf Memaafkan

Sahabat yang budiman, dunia ini dipenuhi dengan lika-liku kehidupan. Ada suka ada duka, ada kecewa ada bahagia, ada pengkhianatan ada pembelaan, ada kebohongan ada kejujuran. Kita pernah merasakannya, atau bahkan memberikan ketidaksukaan kepada orang lain. Kecewa boleh, sakit hati boleh, tapi jika hal itu dipelihara dalam kurun waktu yang lama, bahkan diabadikan dalam ruang batin kita, tentunya akan menyiksa kita bukan? Selain itu, kita akan terus selamanya mendendam kepada orang yang telah melukai perasaan kita. Dampak lainnya kita bisa saja jadi orang yang traumatis, frustasi dan mungkin saja minder karena telah dihinakan oleh orang lain. Akibatnya, yang menjadi masalah bukan benar-salah, melainkan apa untungnya dan apa ruginya buat kita. Betul tidak? 

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk selalu berlapang dada. Jika kita harus marah, mungkin itu wajar tapi ingat tidak boleh mendendam yah? Dengan tidak memendam dendam sekiranya itu adalah salah satu obat kesejukan hati, penghantar keindahan hidup dalam kebersamaan. Hati yang pendendam akan selalu tersiksa. Selama ia masih hidup bersama dengan sesamanya maka ia akan selalu menemukan kesalahan. Karena manusia adalah makhluk yang bisa bersalah. 

Sahabat, sudah seharusnya menjadi budaya yang baik di antara kita saling memberi maaf dan meminta maaf. Apa kira-kira susahnya memberi maaf, dan apa kira-kira sulitnya meminta maaf? Sepertinya, itu hal yang kecil tapi dibesar-besarkan. Suer, mengapa demikian karena Allah saja Maha Pengampun kepada hamba-Nya, kenapa kita begitu kejam dan tidak mau sedikit pun memberi maaf kepada sesama kita. Dan, apakah kita sudah merasa benar dan sempurna banget di hadapan manusia lain sehingga tidak perlu minta maaf? Rasulullah saw. saja mengajarkan bagaimana menghormati sahabat-sahabatnya. Tentu saja, jika beliau mau menghormati dan lemah-lembut kepada sahabatnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa beliau pun mau dan biasa meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya. 

Subhanallah, Rasulullah saw. telah mengajarkan kita untuk lemah-lembut, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Kita memberi maaf kepada orang yang sudah melukai hati kita. Hebat bukan? Namun, banyak di antara kita yang masih gengsi karena ego kita yang besar banget. Merasa hal itu sangat hina jika dilakukan. Tapi Rasulullah saw, yang lebih mulia, mengajarkan kita dalam hal kemudahan memberi maaf, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Bagaimana, sahabat budiman, masih ragu untuk memberi maaf? Kalau begitu lihat sabda nabi yuk........

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawy)
Memang begitu sakit ketika dihina oleh seseorang. Selain capek hati, juga jadi keras hati. Eh lama-lama malah jadi pendendam. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya sampai tujuh turunan.

Tidak usah merasa turun derajat kalau kita memaafkan teman yang udah berbuat salah sama kita. Tak perlu merasa rugi hanya dengan memberi maaf kepada teman yang telah melukai perasaan kita. Memang, ada yang bilang bahwa waktu bisa menyembuhkan luka, tapi kita tak akan pernah lupa pada sakitnya. Pernyataan itu boleh-boleh aja sih, tapi apa iya kita akan begitu tega kalau ada orang yang mau minta maaf kepada kita terus kita cuekkin dengan alasan tidak ada untungnya kamu minta maaf? Atau mungkin mengatakan udah telat minta maafnya, aku sudah terlanjur sakit hati? Waw, gubrak.com

Jikalau benar-salah sudah bukan lagi pertimbangan, tapi yang jadi pertimbangan adalah untung-rugi apa jadinya dunia ini. Padahal, bisa jadi memang dia salah kepada kita. Tapi, apakah dia akan selamanya salah? Nggak juga kan? Sama seperti kita, apa ketika kita berbuat benar, kemudian selamanya akan benar? Nggak ada jaminan kan? Kita juga nggak mau kan dianggap salah terus, padahal kita sudah berusaha untuk menjadi lebih baik? Nah, cobalah dipikir ulang soal ini.

Jadi, mulai sekarang berlapang dadalah. Akui bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan. Permintaan maaf itu sebagai bukti bahwa ia pernah berbuat salah ingin menebusnya. Karena definisi dari maaf sendiri adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Mau kan kita mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepada kita?
Karena boleh jadi, kita juga pernah (atau bahkan sering?) berbuat salah, dan orang lain juga pernah berbuat salah dan menyakitkan buat kita. Itu sebabnya, kita harus mengakui kenyataan ini dan berusaha untuk bersikap bijak. Tidak ada manusia yang terus berbuat salah dan tak ada manusia yang selamanya berbuat baik. Dengan demikian, yang lebih bijak adalah mereka yang saling memaafkan dengan sesamanya. Bukan  malah jadi pendendam.

F.A Ulma/08/02/14 
Referensi inspirasi:
google.com
Konsultasi konselor
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, cetakan ke-3, 2003, hlm. 693)

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan