Skip to main content

Cerpen Kotak Surat Darimu


Kasih, Setelah beberapa pekan kau diam membungkam dan mengacuhkanku dengan tidak menemuiku, ratusan panggilan tak terjawab di handphonemu bahkan pesan via sms dariku tak satupun mendapat respon darimu. Membuatku memendam rindu, tuk segera kembali bercumbu denganmu. Tak terduga sebelumnya, hari ini kau membuatku begitu terkejut. Kau hadir di hadapanku dengan membawakan sebuah kabar. Yah.. sebuah kabar bahagia.
“Ada apa? Tidak seperti biasanya. Aku rasa ada yang aneh.” Tak kugunakan kalimat basa-basi atau prolog untuk membuka percakapanku dengannya. Dengan sigap kulontarkan kepadanya beberapa pertanyaan. Seperti yang kuduga, dia hanya diam, mengabaikan pertanyaanku.
Aku mengikutinya untuk diam. Kami berdua terdiam. Wajahnya mulai ditundukkan. Sedangkan mataku terus mengawasinya. Menunggunya untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Lebih dari 10 menit kami terdiam. Sampai pada akhirnya, dia mengeluarkan sebuah kotak surat kemudian meletakkannya di atas meja, aku mengambilnya yang kurasa ditujukan untukku.
Kasih. Secair air, kau ungkapkan bagaimana perasaanmu ketika beberapa pekan terpisah dariku. Bagai aliran yang tak berujung, kau dengan lugas menceritakan bagaimana perasaanmu ketika kau pertama kali mengenalku. Seakan dipenuhi bunga merona, kau berkata bahwa aku merupakan bunga yang indah. Bunga yang bisa menyejukkan matamu bila kau pandang, bunga yang menenangkan bila kau hirup aroma segarnya, serta bunga yang membawa kebahagiaan jika bisa kau miliki.
Juga, seutas kalimat tertulis di samping foto yang kau lampirkan dalam kotak surat itu. Sebuah gambar yang kau potret diam-diam di sebuah taman bunga, saat kau meluahkan semua perasaanmu tentang diriku, tempat yang menjadi saksi berseminya cinta kita. Yah.. cinta antara kau dan aku. Begitu rapi nan indah kalimat demi kalimat yang kau tuliskan, bahwa tiada kasih yang paling indah selain diriku, akulah kasih yang paling berkesan dalam hidupmu, kasih yang mampu membuatmu ikut bersedih dan melinangkan air mata di saat aku sedang terluka.
Secarik surat juga terlampir bersama kertas berwarna merah jambu, berhias bunga ungu terikat dengan kain pita. Kupikir, surat itu surat kita terdahulu. Surat pertama, yang bernasib sama dengan foto tadi. Bukan! Ternyata, surat itu surat baru. Jika surat yang pertama kau tulis hanya bercerita tentang kau dan aku, kini, surat yang kedua kudapati kata ‘dia’.
Kemudian aku membalik bagian depan kertas berwarna merah jambu, berhias bunga ungu, yang ternyata sebuah undangan. Begitu terkejutnya aku, ketika melihat apa yang kubaca di sepucuk undangan yang terlihat mewah itu. Berita itu telah kau sampaikan kepadaku. Melalui kertas berwarna merah jambu yang berhias bunga ungu, tertera jelas namamu dan namanya. Haikal fikri & Nuraliana.
Kasih. Masihkah pantas kupanggil namamu dengan sebutan kasih? Untaian kata demi kata, bait demi bait telah habis ku baca hingga berada pada bait akhir. Akhir kata dalam suratmu, di antara kertas berwarna merah jambu berhias bunga ungu itu,  kau ingin agar aku juga merasakan bahagia, sebahagia yang kau rasakan. Dengan kata lain, agar aku bisa segera menyusul status baru yang dua minggu lagi akan kau sandang.
Kulipat surat itu serapi bentuk awalnya. Sebelum kuselipkan kembali surat itu, kupandangi lekat. Terselip senyum dan doa agar kau benar-benar bahagia sebagaimana yang kau gambarkan dalam alunan syair yang terdapat pada secarik kertas yang kau ceritakan tentang ‘Dia’.
Secepat kilat, kurobek surat dan gambar itu. Kini kertas-kertas itu sudah menjadi kepingan yang begitu kecil, seperti kepingan hati yang baru saja kau hancurkan sehancur-hancurnya. Meski telah kuberusaha membuang perasaan ini seperti halnya dengan kepingan kertas itu yang telah kubuang ke tempat sampah. Dikata berat ataupun tidak, kenangan itu kan selamanya ada dalam diriku. Aku tak bisa melupakannya karena kau pernah menjadi bagian dari cerita hidupku.

***

Sebuah acara pernikahan digelar dengan sangat mewah di sebuah gedung ternama di tanah kelahiranku. Dia terlihat sangat tampan, duduk di kursi pelaminan itu. Dia memakai kemeja lawasnya, kemeja yang dia beli di rumah butik milikku bersamaan dengan gaun putih. Gaun putih yang telah dipakai oleh wanita pilihanmu, wanita yang sedang bersanding denganmu. 

Jika saja kami berdua disandingkan, kami berdua pasti terllihat sangat serasi. Jika saja.. jika saja aku berada di sampingnya, kami pasti terlihat sangat pas. Jika saja aku duduk di pelaminan itu bersamanya. Jika saja aku yang menjadi pengantinnya. Ahh... Tapi sayangnya itu hanya imajinasiku yang terlalu liar. Otakku masih belum bisa menerima kenyataan. Hatiku masih gentar menghadapi apa yang baru saja aku rasakan. Perasaan yang tak karuan membuatku menangis seharian setelah menerima undangan yang dia berikan waktu itu. 

Sekuntum bunga jatuh tepat di atas kepala membuyarkan lamunanku terhadap dirinya. Kulihat bunga itu. Ya. Begitu indah. Warna putih gading dipadu kuning telurnya benar-benar memanjakan kesejukan di mataku. Kucoba untuk menikmati aroma harumnya yang berada dalam genggamanku. Tiba-tiba kumelirik pada jari tanganku yang terlilit benda kecil. Yah.. sebuah benda kecil yang telah melingkar di jari manisku. Kemudian kutatap perlahan seorang kekasih, dia yang tengah berdiri di sampingku. Aku tak mau, dia mengetahui bahwa aku pernah beradu kenangan dengan dia. Dia yang tengah duduk di atas kursi pelaminan itu. Meski aku yakin bahwa dia tak kan menyalahkanku atas kenangan itu, namun aku masih punya rasa malu. 

Para tamu undangan mengantri untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai dan keluarga yang telah berjajar rapi. Sekarang giliranku, aku berjalan ke arahnya kemudia kami berjabat tangan dan ku bisikan padanya bahwa  ,”Tak adil jika kau yang telah berbagi kebahagiaan denganku, tak mendapat kabar bahagia yang kini sedang kualami bersama dia. Dia yang  sekarang sedang bersamaku, berdiri di sampingku dan ikut serta memberikan ucapan selamat untuk kalian. Namanya bayu. Aku dan dia sudah menjadi pasangan kekasih, suami dan istri. Ya. Gelar itu lebih cepat kudapatkan. Seminggu sebelum status barumu kau sandang.” 

***The End***


Comments

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan