Skip to main content

Puisi Ungkapan


Detik detik jam mengalun lelah
Menyatukan jarak yang tak kunjung sudah
Tanpa sepatah kata bibir ini mulai keluh
Ada sebuah rasa yang tak bisa digambarkan
Ada sebuah harapan yang harus menjadi nyata
Ada seonggok daging yang mulai rapuh
Daging itu bernama hati

Hati pun mulai berdecak kagum saat namanya terdengar
Padahal yang membicarakannya berada di radius puluhan kilometer
Meski kenyataannya kita tak saling mengenal
Membuatku sulit untuk sekedar menanyakan kabarnya
Pun menyapanya adalah keraguan untukku
Mendoakannya adalah caraku menyemogakannya
Karena doa tak hanya sebatas kata tanpa makna

Berlembar ungkapan hati telah kutulis
Kubiarkan berhamburan untuk sebuah kejujuran
Kubiarkan tercecer berharap ia bisa menemukannya
Sebab aku tidak akan pernah bisa mengatakan di depannya

Aku ingin menyelesaikan tanya yang selalu membayang
Untuk menata kembali puing puing hati yang rapuh
Untuk sebuah rasa yang tidak kuketahui alasannya
Untuk satu kesalahan karena menyukainya semauku

Nyatanya
Semua berakhir bersamaan dengan kekhawatiranku
Kita tidak akan pernah bisa saling mengakui
Dengan kata kata yang sedikit lebih jujur

Gowa, 31 Oktober 2016

Pernah di terbitkan di koran Harian Amanah Makassar

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Agar cinta itu tetap utuh tak tersentuh
Seperti mentari ketika menyapa kuntum bunga yang bermekaran
Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran

Mungkinkah ada aku di hatimu
Adakah kau tau bahwa aku sangat menginginkanmu

Saat bibir tak lagi mampu berkata
Hati ini menjerit memanggil namamu
Terngiang selalu saat kau panggil namaku
Membawaku semakin berkhayal akan dirimu
Tergambar jelas semua tentangmu
Tentang senyumanmu
Tentang kebijaksanaanmu
Bahkan cara kau menatapku
Gelisah malamku merintih merindukanmu
Seakan pagi tak akan bertemu malam

Namun cukup dalam diamku
Dalam diam aku mengagumimu
Dalam hening aku memikirkanmu
Dalam doa aku merintih mengharapmu
Dalam kesendirian aku bertahan memujamu
Aku merindukanmu berharap kau mecintaiku
Mencintai cinta dengan cintaNya
Dan aku akan selalu mencintaimu dalam diamku
Hingga cintaku dan cintamu di persatukan dalam cintaNya

Resensi Buku MELAWAN TAKDIR Karya Prof. Hamdan Juhanis

Melawan Takdir. Adalah  buku Otobiografi motivasi Hamdan Juhannis, dosen sekalgius professor termuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudddin Makassar. Terbit pertama kali pada Juli 2013 hingga pada cetakannya yang keenam November 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan dari  seorang yang resmi menyandang gelar  professor atau guru besarnya pada usia 37 tahun itu. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, ayah dari dua orang putri ini  telah aktif menulis berbagai opini yang dimuat di surat kabar.
Prof. Hamdan Juhannis adalah seorang Profesor termuda. Dia enerjik, bugis humoris, dan pandai beretorika. Mungkin ini warisan dari Almarhum Ayahnya yang berprofesi sebagai penjual obat keliling. Dalam bukunya itu menceritakan perjalanan hidup seorang anak yatim miskin dari pedalaman Bone Sulawesi Selatan sampai mendapat gelar Ph.D di Australian National University (ANU), Canberra. ANU adalah universitas yang paling bergengsi di negeri kangguru.…

Puisi Desember Bulan Kenangan